Sabtu, 10 Oktober 2015

Episode 3, rajo nan mambangun

Palamak Carito Minang Kabau
Episode 3

            Setelah ditinggal mati oleh Daputa Hyang kekuasaan di ambil alih oleh anak semata wayangnya yang bernama Sri Jayanaga. Ia merupakan pemimpin yang sangat kuat dalam bidang militer. Pasukan perluasaan daerah menjadi pasukan yang dipimpin sendiri oleh Sri Jayanaga.
            Kekuasaan Sri Jayanaga menjadi kuat dengan ditandai perluasaan daerah ke jambi sampai ke kerajan terbesar di masa itu, yaitu Sriwijaya yang berpusat Sungai Musi. Akibat perbarasan yang semakin dekat Kekuasaan Sri Jayanaga selalu didesak mundur oleh Kerajaan sriwijaya.
            “kapado kasado pasukan… kito ka mamulai malawan ka Sriwijaya… gara-gara pasukanyo manggadua pasukan kito di bateh kito jo inyo”. Pintak Sri Jayanaga, yang tidak ingin mundur dari daerah yang memang ia kuasai terlebih dahulu.
Dalam perlawanan tersebut Sri Jayanaga memimpin pasukan tersebut. Namun berita buruk diterima oleh para pasukan yang berada di Istana. “kaba buruak…. Sri Jayanago mati di bunuah dek pasukan Sriwijaya…”. Pengumuman yang disampaikan oleh adik tiri beliau tersebut membuat masyarakat Darek menjadi sangat sedih.
Masih dalam hari yang sama saat Sri Jayanaga di semayamkan, Lokitawarman adik tiri dari Sri Jayanaga diangkat sebagai pemimpin daerah darek. Dengan di beri gelar Sri Maharaja Lokitawarman.
“Danga rang Darek kasadonyo !!!.
Karano malang ndak dapek ditulak
Mujua ndak depek diraiah…
Kito manatapkan mangganti pamimpin darek kito…
Nan di tinggian sarantiang
Nan di duluan salangkah…
Sri Maharajo Lokitawarman namonyo….

Setelah Sri Maharaja Lokitawarman resmi memimpin Daerah Darek. Ia dan pasukannya mengirim surat perdamaian dengan kerajaan Sriwijaya. Dalam surat tersebut Sri Maharaja Lokitawarman menyebutkan semua 22 batas Daerah Darek yaitu :
Nan salilik gunuang Marapi
Saedaran gunuang Pasaman
Sajajaran Sago jo Singgalang
Saputaran Talang jo Kurinci
Dari Sirangkak nan badangkang
Hinggo buayo putiah daguak
Sampai ka pintu rajo hilia
Hinggo durian ditakuak rajo
Sipisau-pisau hanyuik
Sialang balantak basi
Hinggo aia babaliak mudiak
Sailiran batang Bangkaweh
Sampai ka ombak nan badabua
Sailiran batang Sikilang
Hinggo lauik nan sadidieh
Ka timua Ranah Aia Bangih
Rao jo Mapat Tunggua
Gunuang Mahalintang
Pasisia banda sapuluah
Taratak aia itam
Sampai ka Tanjuang Simalidu
Pucuak Jambi Sambilan Lurah

 Perbatasan tersebut membuat kekuasaan Derah Darek dan Rantau menjadi sangat terkontrol oleh pemerintahan. Sehingga masnyarakat Darek dan Rantau menjadi makmur dan damai.
Suatu ketika saat Daerah Darek dan Rantau memulai kontak dengan pedagang islam, membuat para pedagang tersebut selalu menyerukan akan keislaman. Hingga berita teresebut di sampaikan ke pada Sri Maharaja Lokitawarman.
Setelah mendengar seruan masuk islam Sri Maharaja Lokitawarman meneliti akan ajakan tersebut. Setalah 1 tahun melakukan pendalaman ilmu keislaman, Sri Maharaja Lokitawarman masuk kedalam agama islam. Dan menjadikan islam sebagai agama kerajaan, Sehingga membuat Derah Darek dan Rantau terdiri dari dua kepercayaan yaitu budha yang dibawa oleh nenek moyang dan islam yang berpadu dengan Budha yaitu system Matrilineal.
 Hingga pada akhirnya mayoritas masyarakat minang yang masuk islam. Dengan perbedaan agama yang terjadi di minang membuat Sri Maharaja Lokitawarman melakukan revolusi besar-besaran di lingkungan istananya.
Dengan revolusi tersebut ada penganut budha yang menerima dan ada pula yang membenci revolusi besar-besaran itu. Sehingga timbul niat buruk dari masyarakat yang tidak menerima tersebut untuk membunuh Sri Maharaja Lokitawarman.
Pada akhirnya niat buruk dari masyarakat yang menentang revolusi besar-besaran di minang kabau menemui titik terang, ketika Sri Maharaja Lokitawarman duduk bersila di depan istananya, kelopok pemberontak itu menawarkan air minum yang diberi racun di dalamnya.
Tidak lama setelah itu pandangan sang Sri Maharaja kabur dan beliaupun jatuh terkapar, semua masyarakat yang mendukung beliaupun menangkap para pelaku. Setelah di obati oleh tabib yang sangat hebat, nyawa Sri Maharaja Lokitawarman pun tidak tertolong. Beliau di makamkan di belakang istana.




TO BE CONTINUE….

Jumat, 09 Oktober 2015

episode 2, asal mula nama minang kabau

Palamak Carito Minang Kabau
Episode 2
            Di derah darek yang di kuasai oleh penguasa Daputa Hyang, banyak masyarakat yang gemar bertenak kerbau. Sehingga daerah pada saat ini Daerah Darek menjadi pusat perdagangan kerbau di pulau Sumatera.
            Hingga suatu ketiak datang sekelompok peternak dari Jawa yang ingin mengadu kehebatan bertarung Sang Kerbau Darek.
            “Ngendi kebo paling ing dhataran iki ? ... Adu karo kebo gedhe kita !!!” tantang para pengembara dari Jawa tersebut.
            “Jan gadang kerengkan kalian !.. datang sajo ka balai bisuak sanjo !... di situ kito adu kabau gadang kalian samo kabau bagak kami”. Jawab warga darek yang menerima tantangan dari pengembara Jawa tersebut.
            Waktu yang ditunggu pun datang, senja hari di padang yang luas di tengah-tengah pusat Daerah darek. Para penembara dari Jawa pun datang dengan membawa kerbau besar dan sangat kuat. 
            “woy.. gadangnyo ly kabau urang Jawa tu… ly ka managang kabau kito ko ?”. Tanya orang darek yang sangat kagum dengan besar dan kuatnya postur kerbau dari Jawa tersebut.
“Tanang jo lah waang !.. Kabau kito pasti manang….”. Jawab orang darek yang yakin akan kemenangan kerbau orang Darek.
Setelah para warga datang dan berkumpul di Balai Darek, kerbau Darek pun dikeluarkan dari kandangnya. 
            “lagi kebo cilik ... kebo kita bakal menang ing kebo lemah cilik ...”. Cemooh dari para pengembara Jawa yang meliha kerbao orang Darat sangat kecil dari kerbau mereka.
            Kerbau Jawa merupakan kerbau betina besar, kuat dan memiliki postur yang kokoh. Sedangkan kerbau Darat merupakan anak kerbau yang baru berumur 6 bulan, dan belum berhenti menyusu dengan induknya, dilengkapi dengan tanduk besi yang di asah tajam dan dinamai “Minang” oleh masyarakat darek.
            Pertandingan pun dimulai anak kerbau daerah Darek pun langsung menegejar kerbau besar dari Jawa itu, kerena anak kerbau darek itu sengaja tidak di beri susu dari induknya selama dua hari. Akibatnya, anak kerbau Darek pun menyusup ke kolong dari kerbau Jawa yang disangka induknya tersebut.
            Sehingga tanduk dari besi yang diasah tajam tesebut menancap di perut kerbau Jawa. Dua kali hentakan dari anak kerbau Darek itu membuat kerbau besar Jawa terkapar dan bersimbah darah, sehingga membuat orang Jawa yang semula sombong dengan kekuatan dari kerbau besarnya itu.
               “kebo kita ilang .. carane iki ? kita enggal-enggal metu saka kene !”. dengan perintah tersebut semua pengembara asal jawa tersebut kabur, karena takut akan cemoohan dari orang Darek.
               Setelah mengetahui orang Jawa yang kabur, rakyat Darekpun merayakan kemenangannya, setelah itu mambawa isi perut dari kerbau Jawa itu kesuatu tempat yang di beri nama Simpuruik, setelah itu ada pula yang membawa kulit kerbau itu kesebuah tempat yang di beri nama Sijangek.
               Dari pertarungan itu daerah Darek pun mengubah namanya menjadi Minang Kabau yang berarti piasu kecil yang di asah dan di pasang di kepala kerbau.
 
 
 
 

TO BE CONTINUE

Selasa, 29 September 2015

Episode 1, merapat di minang


Episode 1
Marapek ka Darek

            Berdiri tegap dan kokoh di antara para awak kapalnya, Daputa Hyang mulai merasakan kelaparan dan betapa panasnya Sang Surya tengah hari Samudera Hindia, sambil melihat ke arah atas Ia mulai mengeluh karena tidak ada laporan dari awak kapalnya yang melihat daratan.
            “baa ko ? ndak ka ado darek tempek basanda ly ko ?”
Tidak lama setelah keluhan Sang Daputa Hyang, anak buahnya berteriak karena melihat sebuah daratan di ujung samudera.
“Daputa, ado gunuang sagadang talua itiak.“
“Mano?” jawab Daputa sambil merebut teropong dari tangan awak kapalnya tersebut.
“oh. Iyo kironyo ma, kapa marepek ka gunuang tu ! “. Sambung Daputa yang sangat penasaran dengan gunung sebesar telur itik tersebut.
Setelah di dekati ternyata gunung yang semula terlihat sebesar telur itik, tenyata sangat luas daratanya. Para awak kapalpun tertegun dengan keindahan daratan tersebut. Setelah kapal Daputa berlabuh di pantai, para awak kapal langsung mencari pesediaan makanan yang tersedia di daratan tersebut.
Daputa Hyang pun sangat suka dengan daratan tersebut, sehingga Ia lupa akan rasa penasarannya semula untuk melihat besar gunung yang Ia kagumi tadi dari kejauhan. Daputa Hyang pun mengajak para awak kapal untuk berunding dalam menetapkan lama mereka akan menetap di pulau tersebut.
“Hoy, kasado awak kapa marapek ka mari !” perintah Daputa yang membuat semua awak kapal mendekat ke tempat bersandarnya.
“rasonyo, darek ko ancak untuak di jadian tampek manatap kito, kito bangun pertahanan di siko!”
Dari perintah tersebut pasukan Daputa segera membuat tempat menetap bagi Daputa dan para awaknya, dengan bantuan kekuat sakti Daputa Hyang, tempat menetap di bangun di lereng gunung yang di namainya Gunuang Marapi, Karena diambil dari kata marapek yang dilakukan oleh Daputa dengan para awak kapal untuk memutuskan keputusan menetap disana, selesai dalam waktu satu hari saja.
Setelah menetap sekitar 4 tahun di Pariangan, Daputa Hyang memutuskan untuk pindah ke daerah yang lebih rendah untuk mendirikan kerajaan di sana. Pada akhirnya Ia menemukan sebuah pulau kecil di tengah sungai yang arusnya deras. Di  daerah yang di namainya Minanga Tamwan itu, Daputa mendirikan tempat sesembahan baginya, dengan menggunakan kekuatan yang hebat Daputa Hyang menjadi penguasa di daerah yang baru di datangi tersebut.
Di daerah yang di kuasainya, Daputa selalu memerintahkan para prajurit untuk berekspedisi di sekitar kerajaannya. Dari ekspedisi tersebut Daputa mendapat banyak informasi untuk perluasan daerah kekuasaannya.
Informasi terpenting dari para prajurit yang selalu disimpan oleh Daputa ialah:
Pucuk Jambi Sembilan Lurah,
Bukik Siguntang Mahameru disinan talataknyo Nirwana,
Tempet babaliaknyo roh ala mati.
Setalah menikmati masa jaya kekuasaanya Daputa meninggal dalam keadaan sakit yang memang sudah menjadi wabah menular bagi masyarakat dearahnya di masa itu. Dapuat dikuburkan di negeri sambilan yang dikenal oleh masyaraka sebagai tempat bersemayam para dewata.
Dengan kadaan sedih melepas kepergian Daputa Hyang, para masyarakat membuat petatah menegenai asal dari Daputa itu sendiri.
Dari Mano Asa Titiak Palito
Dari Telong Nan Batali
Dari Mano Asa Niniak Kito
Dari Puncak Gunung Marapi




TO BE CONTINUE……