Palamak Carito Minang Kabau
Episode
2
Di
derah darek yang di kuasai oleh penguasa Daputa Hyang, banyak masyarakat yang
gemar bertenak kerbau. Sehingga daerah pada saat ini Daerah Darek menjadi pusat
perdagangan kerbau di pulau Sumatera.
Hingga
suatu ketiak datang sekelompok peternak dari Jawa yang ingin mengadu kehebatan
bertarung Sang Kerbau Darek.
“Ngendi kebo paling ing dhataran iki ? ... Adu karo kebo gedhe kita !!!” tantang para pengembara dari Jawa tersebut.
“Jan gadang kerengkan kalian !.. datang sajo ka balai bisuak sanjo !... di situ kito adu kabau gadang kalian samo kabau bagak kami”. Jawab warga darek yang menerima tantangan dari pengembara Jawa tersebut.
Waktu yang ditunggu pun datang, senja hari di padang yang luas di tengah-tengah pusat Daerah darek. Para penembara dari Jawa pun datang dengan membawa kerbau besar dan sangat kuat.
“woy.. gadangnyo ly kabau urang Jawa tu… ly ka managang kabau kito ko ?”. Tanya orang darek yang sangat kagum dengan besar dan kuatnya postur kerbau dari Jawa tersebut.
“Tanang jo lah waang !.. Kabau kito pasti manang….”. Jawab orang darek yang yakin akan kemenangan kerbau orang Darek.
Setelah para warga datang dan berkumpul di Balai Darek, kerbau Darek pun dikeluarkan dari kandangnya.
“lagi kebo cilik ... kebo kita bakal menang ing kebo lemah cilik ...”. Cemooh dari para pengembara Jawa yang meliha kerbao orang Darat sangat kecil dari kerbau mereka.
Kerbau Jawa merupakan kerbau betina besar, kuat dan memiliki postur yang kokoh. Sedangkan kerbau Darat merupakan anak kerbau yang baru berumur 6 bulan, dan belum berhenti menyusu dengan induknya, dilengkapi dengan tanduk besi yang di asah tajam dan dinamai “Minang” oleh masyarakat darek.
Pertandingan pun dimulai anak kerbau daerah Darek pun langsung menegejar kerbau besar dari Jawa itu, kerena anak kerbau darek itu sengaja tidak di beri susu dari induknya selama dua hari. Akibatnya, anak kerbau Darek pun menyusup ke kolong dari kerbau Jawa yang disangka induknya tersebut.
Sehingga tanduk dari besi yang diasah tajam tesebut menancap di perut kerbau Jawa. Dua kali hentakan dari anak kerbau Darek itu membuat kerbau besar Jawa terkapar dan bersimbah darah, sehingga membuat orang Jawa yang semula sombong dengan kekuatan dari kerbau besarnya itu.
“kebo kita ilang .. carane iki ? kita enggal-enggal metu saka kene !”. dengan perintah tersebut semua pengembara asal jawa tersebut kabur, karena takut akan cemoohan dari orang Darek.
Setelah mengetahui orang Jawa yang kabur, rakyat Darekpun merayakan kemenangannya, setelah itu mambawa isi perut dari kerbau Jawa itu kesuatu tempat yang di beri nama Simpuruik, setelah itu ada pula yang membawa kulit kerbau itu kesebuah tempat yang di beri nama Sijangek.
Dari pertarungan itu daerah Darek pun mengubah namanya menjadi Minang Kabau yang berarti piasu kecil yang di asah dan di pasang di kepala kerbau.
TO BE CONTINUE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar